Selasa, 27 Mei 2014

Kimia Kualitatif (Antibiotika)



A N T I B I O T I K
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang pada konsentrasi tertentu dapat menghambat atau membunuh mikroorgamisme lain

1928 ® Alexander Fleming menemukan penisilin dari Penicillium notatum
1929 ® dipublikasikan
1941 ® dicobakan pada manusia
1942 ® Dr. Salman A. Waksman streptomisin dari  Streptomyces griseus
Pada umumnya dibuat secara mikrobiologis ( biakan mikroorganisme ), semisintetik dan sintetik

SIFAT UMUM
1.    Berbentuk serbuk putih
2.    Tidak berasa, sedikit pahit dan pahit
3.    Tidak berbau kecuali golongan penisilin
4.    Larut dalam air atau alkohol, yang kurang larut mis. kloramfenikol
5.    Reaksi penggolongan sulit dilakukan karena strukturnya berbeda

REAKSI WARNA
1.    Asam – asam pekat                7.  Piridin + NaOH pekat, panaskan di WB
2.    FeCl3                                                    8.  Cu(NO3)2 amoniakal ( lihat eritromisin )
3.    Roux                                       9. NaOH dil, panaskan, netralkan dengan HCl + FeCl3
4.    Fehling                                 10.  Weber
5.    Marquis                               
6.    Frohde

REAKSI KRISTAL
1.    Aseton – air
2.    Fe kompleks
3.    Dragendorf

REAKSI MASING – MASING ZAT
1.    Ampisilin
·         Merupakan serbuk putih kecoklatan
·         Bau : khas
·         Zat + 1 ml air + 2 ml Larutan Fehling ® ungu ( fuhsin )
·         Zat + 3 ml NaOH + 0,3 g hidroksilamin HCl, biarkan 5 menit + HCl 6 N ad asam + 1 ml FeCl3 ® ungu-merah kotor
·         Reaksi kristal : AA


2.    Kloramfenikol
·         Zat + 2 g NaOH + 3 ml air, panaskan ad mendidih ®kuning
·         Zat + 3 ml etanol 70% + 7 ml air + 200 mg serbuk Zn, panaskan di WB 10 menit, saring.
a.    Filtrat + benzoilklorida, kocok 1 menit + 3 ml FeCl3 ® merah ungu pekat
b.    Filtrat + 3 ml HCl encer + NaNO2 10% + 10 mg 2-naftol dalam 5 ml NaOH 15% ® merah jingga
c.    Filtrat + HNO3 ad asam + AgNO3 ® endapan AgCl
·         Reaksi kristal : AA
3.    Eritromisin
·         Kocok dengan H2SO4 pekat ® merah coklat
·         HNO3 pekat ® merah ungu coklat
·         Zat + air + Cu(NO3)2 amoniakal, biarkan 5 menit, panaskan ® abu-abu coklat
·         Zat + aseton + HCl ® jingga ® merah ® merah tua keunguan, + CHCl3 ® lapisan CHCl3 ungu
·         Reaksi kristal : AA, Fe kompleks, reinechat

4.    Sefalexin
·         Zat + asam asetat glacial 1% + CuSO4 1% + NaOH ® hijau
·         Reaksi kristal : AA
5.    Streptomisin
·         Reaksi Maltol
Cara : Zat + air + NaOH, panaskan di WB 5 menit, dinginkan + Fe(NH4)3 + HCl ® merah tua
·         Reaksi Sakaguchi
Cara : zat + air + NaOH + 1-naftol 0,05% dalam etanol 60%, dinginkan ad 15°C + Na hipobromat ® merah ungu
·         Zat + reagen Weber ® jingga rosa
·         Zat + air + NaOH, panaskan di WB ® kuning + HCl + FeCl3 ® ungu
·         Frohde ® hijau ( agak lama )
·         Roux ® merah delima + asam asetat ®kuning
Reaksi
Streptomisin
Dihidrostreptomisin
Roux
Merah delima
Rosa merah coklat stabil
Nessler
Positif
Negatif
Frohde
Hijau
Negatif ( biru samar )
Weber
Jingga rosa
Merah jingga
Reaksi Sakaguchi
Merah ungu
Merah
NaOH + HCl + FeCl3
Ungu
Ungu muda



6.    Tetrasiklin
·         Larutan dalam air ® kuning
·         Zat + H2SO4 pekat ® ungu, encerkan dengan air ® kuning
·         Zat + H2SO4 pekat ® ungu + FeCl3 1% ® coklat atau merah coklat
·         Reaksi gabungan dengan asam sulfanilat terdiazotasi
Cara : zat + NaOH + ( asam sulfanilat + NaNO2 10% sama banyak ) ® merah tua
·         FeCl3 + etanol, panaskan ®  merah kersen
·         Larutan 1% buat pH netral, didihkan ® fluorescensi biru kuat

7.    Kanamisin SO4
·         Zat + air + ( ninhidrin dalam butanol 1:50 ) + piridin, panaskan di WB 5 menit + air ® lembayung tua
·         Roux ® coklat ( spesifik )
·         Reaksi kristal : AA

8.    Rifampisin
·         Serbuk merah tua
·         Reaksi kristal : AA tetes minyak merah tua

S

uji disolusi



Uji disolusi adalah penetapan jumlah atau persentasi zat aktif dari suatu sediaan padat yang terlarut pada suatu waktu tertentu dalam kondisi baku yaitu pada suhu, kecepatan pengadukan dan komposisi media tertentu. Uji disolusi merupakan suatu parameter penting dalam pengembangan produk dan pengendalian mutu obat. Kecepatan disolusi yang dinyatakan dalam persen per satuan waktu, adalah suatu karakteristik mutu yang penting dalam menilai mutu obat yang digunakan peroral untuk mendapatkan efek sistemik.
1.1 faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan disolusi
a.       Suhu
Untuk zat-zat yang memiliki sifat kelarutan endotermik, semakin tinggi suhu, nilai koefisien difusi akan meningkat sehingga kecepatan disolusi juga meningkat.
b.      Viskositas
Berdasarkan persamaan Einstein, semakin rendah viskositas maka nilai koefisien difusi akan meningkat sehingga kecepatan disolusi juga akan meningkat.

c.       Ukuran partikel
Ukuran partikel berpengaruh pada nilai koefisien difusi dan luas permukaan efektif yang kontak dengan pelarut. Bila ukuran partikel yang didisolusikan semakin halus, maka koefisien difusinya semakin tinggi dan luas permukaan efektifnya juga semakin besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
d.      Kecepatan pengadukan
Pengadukan akan berpengaruh pada tebal tipisnya lapisan difusi. Semakin tinggi kecepatan pengadukan, maka tebal lapisan difusi akan semakin menipis.
e.       pH pelarut
pH pelarut berpengaruh pada partikel-partikel yang bersifat asam atau basa lemah. Partikel tersebut akan membentuk garam dengan pasangan asam atau basa kuat yang akan meningkatkan kelarutan sehingga kecepatan disolusinya meningkat.
f.       Polimorfisme
Perbedaan struktur internal suatu zat akan berpengaruh pada kekuatan ikatan atau kestabilan partikel dalam medium pelarutnya, khususnya untuk kristal-kristal metastabil yang lebih mudah melarut sehingga kecepatan disolusinya juga tinggi.
g.      Sifat permukaan zat
Sifat permukaan zat yang terutama diperhatikan adalah sifat hidrofob karena akan berpengaruh pada disolusi dalam cairan tubuh. Sifat hidrofob yang sangat kuat akan menyebabkan zat sulit terbasahi karena tegangan permukaannya besar, maka dapat digunakan surfaktan agar zat lebih mudah terbasahi dan lebih mudah terdisolusi.
Selain dari faktor-faktor tersebut, dalam bentuk sediaan seperti tablet, formulasi obat juga sangat berpengaruh seperti misalnya pengaruh bahan tambahan yang digunakan dan tekanan kompresi yang digunakan saat mencetak tablet. Bahan tambahan dalam hal ini berpengaruh terutama jika membentuk kompleks yang tidak larut seperti kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk kompleks dengan tetrasiklin atau penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob seperti magnesium stearat.
1.2 Alat Uji Disolusi
a.       Alat Uji Disolusi Tipe 1
Alat ini terdiri dari sebuah wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang inert, suatu motor, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan keranjang berbentuk silinder. Wadah tercelup sebagian di dalam sebuah tangas air yang sesuai berukuran sedemikian sehingga dapat mempertahankan suhu dalam wadah pada 37°C ± 0,5°C selama pengujian berlangsung dan menjaga agar gerakan air dalam tangas air halus dan tetap. Bagian dari alat, termasuk lingkungan tempat alat diletakkan harus tidak dapat memberikan gerakan, goncangan atau getaran signifikan yang melebihi gerakan akibat perputaran alat pengaduk. wadah disolusi sebaiknya berbentuk silinder dengan dasar setengah bola tinggi 160 mm hingga 175 mm, diameter dalam 98 mm hingga 106 mm dan kapasitas nominal 1000 mL. Pada bagian atas wadah ujungnya melebar, untuk mencegah penguapan dapat digunakan penutup yang pas. Batang logam berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertikal wadah, berputar dengan halus dan tanpa goyangan yang berarti. Terdapat suatu alat pengatur kecepatan sehingga memungkinkan kita untuk mengatur kecepatan putaran yang dikehendaki dan mempertahankan kecepatan seperti yang tertera dalam masing-masing monografi dalam batas lebih kurang 4%. Komponen batang logam dan keranjang yang merupakan bagian dari pengaduk terbuat dari baja tahan karat tipe 316 atau yang sejenis sesuai dengan spesifikasi pada gambar kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi, gunakan kasa 40 mesh. Dapat juga digunakan keranjang berlapis emas setebal 0,0001 inci (2,5 μm). Sediaan dimasukkan ke dalam keranjang yang kering pada tiap awal pengujian. Jarak antara dasar bagian dalam wadah dan keranjang adalah 25 mm ± 2 mm selama pengujian berlangsung.
Gambar 1. Alat Uji Disolusi Tipe 1
b.      Alat Disolusi Tipe 2 (Tipe Dayung)
Alat disolusi tipe 2 (tipe dayung) terdiri dari sebuah wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang inert, suatu motor, berbentuk dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikal wadah dan berputar dengan halus tanpa goncangan yang berarti. Daun melewati diameter batang sehingga dasar daun dan batang rata. Dayung memenuhi spesifikasi pada gambar. Jarak 25mm ± 2mm antara daun dan bagian dalam dasar wadah dipertahankan selama pengujian berlangsung. Daun dan batang logam yang merupakan satu kesatuan dapat disalut dengan suatu penyalut inert yang sesuai. Sediaan dibiarkan tenggelam ke dasar wadah sebelum dayung mulai berputar. Sepotong kecil bahan yang tidak bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat digunakan untuk mencegah mengapungnya sediaan.
 
Gambar 2. Alat Uji Disolusi Tipe 2
1)      Batang dan daun terbuat dari baja tahan karat berukuran 303 atau yang setara.
2)      Bila alat berputar pada sumbu E, besarnya A dan B tidak boleh menyimpang lebih dari 0,5 mm.
3)      Kecuali dinyatakan lain, toleransi adalah ±1.0 mm. Salah satu faktor yang mempengaruhi laju disolusi adalah suhu. Dalam persamaan Einstein, suhu akan mempengaruhi koefisien disolusi. Perubahan koefisien disolusi tentu akan mengubah laju disolusi. Peningkatan suhu akan memperbesar harga koefisien disolusi sehingga meningkatkan laju disolusi. Kenaikan suhu akan mengakibatkan peningkatan energy kinetik zat, baik pelarut, maupun zat terlarut. Untuk zat dalam panadatn, kenaikan suhu akan memperkecil kekuatan ikatan intermolekul sehingga molekul padatan lebih mudah terbebaskan ke dalam larutan. Energk kinetic zat pelarut yang semakin besar akan memperbesar kemungkinan tumbukan dengan molekul zat padatan yang ada dipermukaan padatan. Tumbukan ini dapat menimbulkan interaksi antara pelarut dan padatan, yaitu adanya tarik-menarik. Gaya tarik-menarik ini bisa menyebabkan molekul dalam padatan terbawa ke dalam larutan. Karena kemungkinan tumbukan semakin tinggi akibat kenaikan suhu, penarikan molekul padatan menuju larutan akan semakin tinggi intensitasnya.